Di antara puing-puing yang berantakan, Lynx perlahan membuka matanya. Kesadarannya kembali sepenuhnya. Dia dengan cepat memahami apa yang telah terjadi. "Aku sudah menduganya. Dunia ini terlalu rapuh untuk menerima keberadaan kekuatanku...," gumamnya pelan, matanya menatap ke arah liontin di lehernya yang sudah kembali menjadi cincin.

Dia mengangkat tangannya dengan tenang dan mulai membentuk formasi untuk menyegel kembali energinya. Namun, kali ini dia sengaja hanya menyisakan sebagian kecil dari energi saktinya, hanya sekitar satu persen dan membiarkan kekuatan tubuhnya yang istimewa tanpa di segel. "Satu persen seharusnya cukup. Tanpa energi ini, tubuhku sendiri sudah memiliki keistimewaan, memiliki kekuatan melebihi para kultivator itu. Saat di pulau, aku harus menyegel semuanya, karena sangat berbahaya jika kekuatan tubuhku menyakiti orang-orang disekitar saat ingatanku bermasalah. Dengan begini, aku bisa melindungi diri tanpa harus menghancurkan dunia ini."

Dia menanamkan segel tersebut dalam akar spiritualnya, memastikan agar tidak ada yang dapat menyentuhnya kecuali dirinya sendiri. Dengan begitu, ia bisa membuka kekuatannya kapan saja jika diperlukan, tanpa perlu bantuan orang lain.

Lynx memeriksa tubuhnya kembali, "benda itu masih ada, jika tidak di segel, benda ini akan menyerap habis semua energi spiritual yang dimiliki dimensi ini. Kekuatan yang kumiliki sudah sangat besar, tidak perlu ditambah lagi." batinnya.

Segel yang dibuat Lynx sangat unik, berkat ingatan yang diberikan oleh leluhur Yaksa, Xiao Tang, dia mengetahui banyak ilmu formasi, dan formasi yang dia gunakan saat ini adalah formasi yang digunakan untuk menyegel jiwa leluhur Monrest. Saat itu mereka perlu bekerja sama dengan semua kultivator immortal untuk menggabungkan kekuatan agar formasi bisa diaktifkan, karena tidak adanya batu spiritual. Namun Lynx yang memiliki kekuatan tanpa batas, dengan sangat mudah membuat formasi tersebut. Bahkan dia mampu membuat formasi dimensi seorang diri.

Dengan formasi yang dia buat, Lynx tidak hanya mengunci agar kekuatannya tidak keluar, tetapi juga mencegah tubuhnya menyerap energi. "Tubuhku dan benda itu seolah-olah berlomba-lomba menyerap energi tanpa batas dari luar, namun disatu sisi aku merasakan tubuhku dan benda itu juga mampu menciptakan energi sendiri. Benar-benar membingungkan."  Lynx menghembuskan napas sambil tersenyum kecut. "Aku bagaikan baterai yang tidak pernah habis."

"Saat melawan naga itu dulu, aku hanya menyalurkan sekitar satu persen dari energi yang ada ditubuhku. Aku ingin tahu kekuatan baruku yang terasa sangat berlimpah, tapi ternyata bahkan dengan jumlah itu, mahluk naga sebesar itu langsung terbunuh dalam satu pukulan. Kekuatan ini benar-benar luar biasa," pikir Lynx lagi, merasakan campuran kekaguman dan rasa tanggung jawab yang besar.

Dia teringat kembali kenangan dari leluhur Yaksa, dimana puluhan kultivator immortal yang bersatu untuk melawan naga, namun mereka tetap tak berdaya. Bahkan dengan formasi terbaik mereka, hanya mampu menyegelnya. Tapi dia, dengan satu pukulan sederhana, berhasil mengakhiri semuanya.

Lynx memejamkan matanya, mencoba menyusun kembali potongan ingatannya yang tercerai-berai selama tiga tahun terakhir. "Kami terpisah... Aku, Leena, dan yang lainnya," batinnya. Dia ingat bagaimana ledakan portal dimensi menghancurkan segalanya, memisahkan mereka di dunia asing ini."Desa Lianhua... Benua Tianzhou... Ternyata aku dan Jelita terlempar ketempat ini."

"Lalu namaku, Xiao Lin. Nama yang diberikan kenapa memiliki kemiripan nama dengan leluhur Yaksa, Xiao Tang. Aku harus menanyakan nantinya ke Jelita mengenai ini." Pikirnya lagi.

Ingatan tentang tiga tahun terakhir perlahan mengalir dalam benaknya. Ia mengenang Jelita, wanita yang selama ini merawatnya tanpa kenal lelah. Dalam setiap penderitaan, Jelita selalu ada di sisinya, bahkan rela kurang tidur demi mencari uang untuk membeli obat yang dapat menyembuhkan kondisinya.

"Dia merawatku seperti itu tanpa pamrih... Bahkan saat aku sering kehilangan ingatan," pikir Lynx. "Untung saja saat menyegel kekuatanku, aku meninggalkan sedikit ingatan tentang Leena, agar aku tidak menyakitinya, seandainya aku lepas kontrol karena kekuatanku pulih sedangkan ingatanku belum kembali. Jika tidak, mungkin aku akan kehilangan kendali bersama Jelita dan melakukan hal yang tidak seharusnya tanpa sadar."

Lynx mengingat bagaimana dia sengaja menanamkan penghalang emosional di pikirannya, untuk memastikan dia tidak pernah melupakan Leena. Itu sebabnya, meskipun Jelita mencoba mendekati dan merayunya, ada batasan yang selalu ia pertahankan.

"Jelita, aku berutang budi kepadamu... Tapi aku harus menemukan Leena dan yang lainnya. Aku harus memastikan mereka semua baik-baik saja, dan setelah semuanya aman, aku akan kembali ke duniaku bersama Leena," gumamnya pelan, sambil menggaruk kepalanya, kebiasaan lamanya yang selalu muncul saat berpikir keras.

Setelah merasakan kekuatannya stabil, Lynx berdiri dan menatap dengan serius, "Jelita... di mana dia? Biasanya, setiap kali aku terbangun, selalu ada dia di sampingku untuk mengingatkan siapa diriku dan apa yang harus kulakukan."

Lynx kemudian memperhatikan sekitarnya, mencari Jelita, dan terkejut melihat rumah yang ditinggalinya hancur berantakan. "Apa yang terjadi? Kenapa bisa hancur begini?" Panik melanda wajahnya saat ia segera mencari Jelita. Karena harus menyegel kekuatannya, dia tidak menyadari dengan situasi di sekitarnya. "Jelita... Jelita..." panggilnya dengan suara penuh harap, namun tidak ada sahutan yang terdengar.

"Apakah aku sudah melukainya? Aku yakin rumah ini hancur karena kekuatanku yang pulih dan meningkat secara drastis, karena seingatku, rumah ini masih baik-baik saja sebelumnya." gumamnya, rasa cemas menyelimuti pikirannya.

Lynx segera memeriksa reruntuhan di sekitarnya dengan perasaan cemas, dia khawatir Leena terkena dampak dari kekuatannya. Setelah memastikan tidak ada Jelita di sekitar reruntuhan di dekatnya, Lynx berdiri diam, matanya lalu terpejam, sementara pikirannya memusatkan energinya. Dalam sekejap, kesadarannya meluas, merambat jauh melintasi benua, seperti gelombang air yang tak berujung. Setiap detak kehidupan di dalam radius itu terpantul jelas dalam pikirannya.

"Benua ini... sangat luas," pikirnya. Meskipun energi saktinya sudah dia batasi, Lynx merasa bisa menjangkau hingga ke ujung daratan yang membentang ribuan kilometer di setiap arah. Namun, pencariannya tidak semudah yang ia bayangkan.

Dia mencoba mencari Jelita, sekalian menemukan posisi Leena dan penduduk Surya lainnya dengan kesadarannya, namun karena Leena dan penduduk Surya tidak memiliki energi kuat yang membedakan dia dengan manusia lain, mereka tidak memiliki tanda unik yang cukup kuat untuk memudahkan pencariannya. Lynx menghela napas panjang. "Mereka... sulit ditemukan," pikirnya dengan sedikit frustasi.

"Sudahlah aku pikirkan nanti saja, aku harus mengurus hal yang lebih penting terlebih dahulu." Saat kesadarannya menyebar ke segala arah mencari Leena dan yang lainnya, Lynx merasakan sosok beberapa orang yang berlari sambil menggendong seseorang wanita di sekitar desa. Mereka terlihat panik, berhenti sejenak karena gempa besar yang baru saja terjadi akibat pelepasan segelnya.

Lynx membuka matanya perlahan, tatapannya tajam dan tegas. "Mereka mencurigakan, apakah terjadi sesuatu dengan Jelita saat aku tidak sadarkan diri?" gumamnya. Tanpa ragu, tubuhnya bergerak dengan kecepatan luar biasa, meninggalkan jejak angin yang mendesing. Dia berlari cepat menuju arah jejak itu. "Aku yakin itu Jelita, tidak ada tanda-tanda kehidupan yang kurasakan di sekitar rumah. Tenang saja Jelita, aku tidak akan membiarkan mereka menyakitimu."

"Tuan muda Huo, apa yang terjadi? Kenapa mendadak muncul gempa?" Kata salah satu pria berbaju hitam dengan nada cemas.

"Tidak perlu dipikirkan, mungkin ada kultivator didekat sini melintas, dan sedang melakukan sesuatu sehingga getarannya sampai ke tempat ini. Kita harus melanjutkan perjalanan sebelum ada yang menemukan kita." Kata Huo Jun setelah berpikir sejenak. Kekuatan para Kultivator seringkali memberikan efek ke lingkungan sekitarnya, terutama saat mereka bertarung dan mengeluarkan kekuatan mereka, tabrakan antar dua kekuatan dapat menimbulkan getaran besar yang dirasakan di sekitarnya, dan pertarungan itu seringkali merugikan manusia biasa seperti dirinya.

"Kenapa kalian diam, ayo cepat! Kita sudah harus pergi dari sini." Kata Huo Jun dengan kesal.

Namun, melihat teman-temannya tidak bergerak dan memandang ke suatu arah dengan ekspresi ketakutan, Huo Jun segera menoleh mengikuti tatapan mereka.

"Xiao Lin?" katanya dengan suara terkejut, wajahnya berubah pucat saat menyadari apa yang sedang terjadi.
